Tajwid

Tajwid

  1. Pengertian Tajwid

Dalam membaca Al-Quran agar dapat mempelajari, membaca dan memahami isi dan makna dari tiap ayat Al-Quran yang kita baca, tentunya kita perlu mengenal, mempelajari ilmu tajwid yakni tanda-tanda baca dalam tiap huruf ayat Al-Quran. Guna tajwid ialah sebagai alat untuk mempermudah, mengetahui panjang pendek, melafazkan dan hukum dalam membaca Al-Quran.

Tajwīd (تجويد) secara harfiah mengandung arti melakukan sesuatu dengan elok dan indah atau bagus dan membaguskan, tajwid berasal dari kata ” Jawwada ” (جوّد-يجوّد-تجويدا)dalam bahasa Arab. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara melafazkan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran maupun Hadist dan lainnya.

Arti lainnya dari ilmu tajwid adalah melafazkan, membunyikan dan menyampaikan dengan sebaik-baiknya dan sempurna dari tiap-tiap bacaan dalam ayat Al-Quran. Menurut para Ulama besar menyatakan bahwa hukum bagi seseorang yang mempelajari tajwid adalah Fardhu Kifayah, yakni dengan mengamalkan ilmu tajwd ketika memabaca Al-Quran dan Fardhu ‘Ain atau wajib hukumnya baik laki-laki atau perempuan yang mu’allaf atau seseorang yang baru masuk dan mempelajari Islam dan KitabNya.

  1. Istilah yang harus diperhatikan dan diketahui dalam pembacaan Al-Quran
  • Makharijul huruf, yakni tempat keluar masuknya huruf
  • Shifatul huruf, yakni cara melafalkan atau mengucapkan huruf
  • Ahkamul huruf, yakni hubungan antara huruf
  • Ahkamul maddi wal qasr, yakni panjang dan pendeknya dalam melafazkan ucapan dalam tiap ayat Al-Quran
  • Ahkamul waqaf wal ibtida’, yakni mengetahui huruf yang harus mulai dibaca dan berhenti pada bacaan bila ada tanda huruf tajwid
  1. Dalil

Berikut ini ada dalil atau pernyataan shahih dari Allah SWT yang mewajibkan setiap HambaNya untuk membaca Al-Quran dengan memahami tajwid, diantaranya :

  • Dalil pertama di ambil dari Al-Quran. Allah SWT berfirman dalam ayatnya yang artinya “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan/tartil (bertajwid)”[QS:Al-Muzzammil (73): 4]. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad untuk membaca Al-Quran yang diturunkan kepadanya dengan tartil, yaitu memperindah pengucapan setiap huruf-hurufnya (bertajwid).
  • Dalil kedua diambil dari As-Sunnah ( Hadist ) yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah r.a.(istri Nabi Muhammad SAW), ketika beliau ditanya tentang bagaimana bacaan Al-Quran dan sholat Rasulullah SAW, maka beliau menjawab: ”Ketahuilah bahwa Baginda S.A.W. Sholat kemudian tidur yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi, kemudian Baginda kembali sholat yang lamanya sama seperti ketika beliau tidur tadi, kemudian tidur lagi yang lamanya sama seperti ketika beliau sholat tadi hingga menjelang shubuh. Kemudian dia (Ummu Salamah) mencontohkan cara bacaan Rasulullah S.A.W. dengan menunjukkan (satu) bacaan yang menjelaskan (ucapan) huruf-hurufnya satu persatu.” (Hadits 2847 Jamik At-Tirmizi).
  • Dalil ketiga diambil dari Ijma atau pendapat para ulama besar Islam. Yakni kesepakatan para ulama yang dilihat dari zaman Rasulullah SAW hingga sampai saat ini, yang menyatakan bahwa membaca Al-Quran dengan ber-Tajwid merupakan hukum atau sesuatu yang fardhu dan wajib.
  1. Hukum bacaan nun mati (ن ) atau tanwin

Nun mati/tanwin apabila bertemu dengan huruf-huruf hijaiyyah hukum bacaannya ada empat macam, yaitu: Idhhar, idgham, iqlab dan ikhfa.

 

  • Idhar ( إظْهَارٌ )

Idhar artinya jelas atau terang. Apabila ada nun mati/tanwin (/ نْ ً ٍ ٌ ) bertemu dengan salah satu huruf halqi hukum bacaannya disebut idhar.

Huruf-huruf halqi itu ada enam yaitu: ا ح خ ع غ ھ

Contoh bacaan idhar:

No Huruf Nun mati (نْ) Tanwin (ً ٍ ٌ )
1 ا مَنْ أمَنَ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ
2 ح عَنْ حَرَامِكَ نَارٌ حَامٍيَةٌ
3 خ مَنْ خَشِيَ ذَرَّةٍ خَبٍيْرٌ
4 ع مِنْ عِلْمٍ سَمٍيْعٌ عَلٍيْمٌ
5 غ مِنْ غِلٍّ اَجْرٌ غَيْرُ
6 ھ مِنْ هَادٍ جُرُفٍ هَارٍ

 

 

  • Idgham ( اِدْغَامٌ )

Idgham artinya memasukkan atau melebur. Apabila nun mati atau tanwin bertemu salah satu huruf dari huruf ي ن م و ل ر maka wajib dibaca idgham, cara membacanya seolah mentasydidkan nun mati/tanwin (نْ / ً ٍ ٌ ) ke dalam huruf hidup sesudahnya. Sehingga bunyi nun mati atau tawin tidak terdengar sama sekali.

Idgham terbagi menjadi dua macam, yaitu: idgham bighunnah dan idgham bila ghunnah.

  • Idgham bighunnah ( اِدْغَامٌ بِغُنَّةٍ )

Idgham bighunnah artinya memasukkan atau melebur dengan dengung (ghunnah) yaitu bila nun mati atau tanwin bertemu salah satu huruf idgham bighunnah yang empat yaitu:

Hukum bacaannya wajib dibaca berdengung (bighunnah) dengan meleburkan suara nun mati/tanwin ke dalam huruf yang ada di depannya.

Contoh bacaan idgham bighunnah:

No Huruf Nun mati (نْ) Tanwin ( ً ٍ ٌ )
1 ي مَنْ يَقُوْلُ يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ
2 ن مِنْ نِعْمَةِ حِكْمَةٍ نَافِعَةٍ
3 م مِنْ مَسَدٍ عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
4 و مِنْ وَرَاءِهِمْ خَيْرٌ وَاَبْقَى

Ketentuan bacaan idgham bighunnah tidak berlaku lagi jika nun mati berada dalam satu kata. Hukum bacannya wajib dibaca idhar atau bunyi nun mati/tanwin dibaca jelas.

 

  • Idgham bilaghunnah ( اِدْغَامٌ بِلاَ غُنَّةٍ)

Idgham bilaghunnah artinya memasukkan atau melebur tanpa berdengung. Apabila nun mati atau tnwin bertemu dengan salah atu huruf idgham bilaghunnah yaitu ل ـ ر

Hukum bacaannya tidak boleh berdengung tetapi wajib melebur nun mati/tanwin ke dalam huruf sesudahnya

Contoh bacaan idgham bilaghunnah:

No Huruf Nun mati (نْ) Tanwin ( ً ٍ ٌ )
1 ل مِنْ لَدُنْكَ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ
2 ر مِنْ رَبِّكَ خَيْرٌ رَازِقِيْنَ

 

  • Iqlab ( اقلاب)

Iqlab artinya membalik atau mengganti. Apabila nun mati/tanwin bertemu dengan huruf ب, maka hukum bacaannya disebut iqlab. Cara membacanya adalah bunyi nun mati/ tanwin berubah menjadi bunyi mim( مْ) Huruf iqlab hanya satu yaitu huruf ب

Contoh bacaan iqlab:

No Huruf Nun mati (نْ ) Tanwin (ً ٍ ٌ )
1 ب مِنْ بَعْدِهِمْ سَمِيْعٌ بَصِيْرٌ

 

  • Ikhfa ( اِخْفَاءٌ)

Ikhfa artinya menyamarkan/menyembunyikan bunyi nun mati atau tanwin. Maksudnya bunyi nun mati/ tanwin dibaca samar-samar antara jelas dan dengung, serta cara membacanya ditahan sejenak. Hukum bacaan disebut ikhfa apabila nun mati/tanwin bertemu dengan salah satu huruf ikhfa yang jumlahnya ada 15 yaitu:

ت ـ ث ـ ج ـ د ـ ذ ـ

 ز – س ـ ش ـ ص ـ ض ـ

 ط ـ ظ ـ ف ـ ق ـ ك

 

 

Contoh bacaan ikhfa:

No Huruf Nun mati (نْ ) Tanwin (ً ٍ ٌ )
1 ت فَمَنْ تَبِعَ جَنّتٍ تَجْرِى
2 ث فَمَنْ ثَقُلَتْ شِهَابٌ ثَاقِبٌ
3 ج اِنْ جَاءَكُمْ خَلْقٍ جَدِيْدٍ
4 د اَنْدَادًا دَكًّا دَكًّا
5 ذ مِنْ ذَهَبٍ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
6 ز وَاَنْزَلْنَا صَعِيْدًا زَلَقًا
7 س أَلإِنْسَانُ سَلمًا سَلمًا
8 ش مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ عَذَابٍ شَدِيْدٍ
9 ص عَنْ صَلاَتِهِمْ عَمَلاً صَالِحًا
10 ض مَنْضُوْدٍ مُسْفِرَةٌ ضَاحِكَةٌ
11 ط مِنْ طَيِّبَاتٍ بَلْدَةٌ طَيٍّبَةٌ
12 ظ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ حُرَّاءً ظَاهِرَةً
13 ف أَنْفُسِهِمْ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ
14 ق مِنْ قَبْلِ رٍزْقًا قَالُوا
15 ك مَنْ كَانَ يَرْجُو نَاِصيَةٍ كَاذِبَةٍ

 

 

  1. Hukum bacaan Mim Mati ( مْ )

Hukum mim mati merupakan salah satu dari ilmu tajwid sebagaimana halnya hukum nun mati. Mim mati atau mim sukun (مْ) apabila bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah maka memiliki tiga hukum bacaan, yaitu ikhfa syafawi, idghom mimi dan idhar syafawi.

 

 

  • Ikhfa Syafawi(اِخْفَاء شَفَوِيّ)

Ikhfa Syafawi adalah menyembunyikan atau menyamarkan huruf mim.Hukum bacaan disebut ikhfa syafawi apabila mim mati atau mim sukun bertemu dengan huruf ba ( ب). Adapun cara membacanya harus dibunyikan samar-samar di bibir dan didengungkan.

Contoh:

Mim mati bertemu huruf ba’ : وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ

Mim mati bertemu huruf ba’ : تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ

 

  • Idghom Mimi( اِدْغَامٌ مِيمِي)

Hukum bacaan disebut idgham mimi apabila mim sukun bertemu dengn mim yang sejenis. Cara membacanya adalah seperti menyuarakan mim rangkap atau ditasydidkan dan wajib dibaca dengung. Idgham mimi sering pula disebut idgham mitslain atau idgham mutamatsilain (idgham yang hurufnya serupa atau sejenis)

Contoh:

Mim mati bertemu huruf mim : وَمَا لَهُمْ مِنَ اللهِ

Mim mati bertemu huruf mim : اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ

 

  • Idhar Syafawi(اِظْهَارْ شَفَوِيِّ)

Idhar syafawi artinya apabila mim mati bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah selain huruf mim dan ba’, maka hukum bacaannya disebut idhar syafawi. Cara membacanya bunyi mim disuarakan dengan terang dan jelas tanpa berdengung di bibir dengan mulut tertutup.

Huruf-huruf idhar syafawi jumlahnya ad 26 huruf, yaitu:

ا ـ ت ـ ث ـ ج ـ ح ـ خ ـ د ـ ذ ـ ر ـ ز ـ س ـ ش ـ ص

 ـ ض ـ ط ـ ظ ـ ع ـ غ ـ ف ـ ق ـ ك ـ ل ـ ن ـ وـ ھ –ي

 

 

No huruf kalimat No Huruf Kalimat
1 ا فَلَهُمْ اَجْرٌ 14 ض وَامْضُوا
2 ت جَنتٍ تَجْرِى 15 ط لَهُم طَعَامٌ
3 ث مَاءً ثَجَّاجًا 16 ظ ظَنَنتُمْ ظَنَّ السَّوءِ
4 ج خَلْقٍ جَدِيْدٍ 17 ع وَلَهُمْ عَذَابٌ
5 ح عَلَيْهِمْ حَافِظِيْنَ 18 غ مَاءُكُمْ غَوْرًا
6 خ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ 19 ف لَهُمْ فِيْهَا
7 د لَهُمْ دَارالاَخِرَةِ 20 ق رَأَوْهُمْ قَالُوْا
8 ذ رَبُّكُمْ ذُوْا رَحْمَةٍ 21 ك اِنَّهُمْ كَانُوا
9 ر اِيْلفِهِمْ رِحْلَةَ 22 ل فَمَا لَهُمْ لاَ يُؤْمِنُوْنَ
10 ز اَمْ زَيَّنّا السَمَاء 23 ن اَلَمْ نَجْعَلْ
11 س فَوْقَكُمْ سَبْعًا 24 و عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ
12 ش هُمْ شَرُّ البَرِيَّةِ 25 ھ اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا
13 ص اِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ 26 ي مَالَم يَعْلَمْ

 

  1. Mad

Menurut bahasa, Mad artinya tambahan atau melebihkan. Di dalam istilah ilmu tajwid, Mad adalah memanjangkan bacaan ketika bertemu dengan huruf-huruf yang mengandung hukum Mad. Dapat dikatakan bahwa Hukum Mad adalah hukum yang mengatur panjang bacaan di dalam Al-Qur’an.Sebelum membahas lebih jauh tentang Hukum Mad, ada baiknya mengenal sedikit tentang “ketukan” dalam membaca Al-Qur’an:

 

 

  • Panjang suara atau bacaan yang dipakai harus rata, tetap, dan teratur.
  • Huruf berharakat fathah dan fathatan ( ــًـــ );  dhammah dan dhammatain ( ــٌــ ) ; kasrah dan kasratain ( ـــٍـــ ) dibaca 1/2 alif atau 1 harakat (ketukan)
  • Huruf yang mengandung Hukum Izhar harus dibaca 1 harakat
  • Huruf yang mengandung dengung (ghunnah) seperti Idgham Bighunnah, Iqlab, Ikhfa dibaca antara 1 alif hingga 1 1/2 alif atau sekitar 2 hingga 3 harakat
  • Huruf ber-tasydid dibaca 2 harakat.

 

  • Mad terbagi 2 macam, yaitu :
  • Mad Ashli / mad thobi’i

Mad Ashli / mad thobi’i terjadi apabila :

  • huruf berbaris fathah bertemu dengan alif
  • huruf berbaris kasroh bertemu dengan ya mati
  • huruf berbaris dhommah bertemu dengan wawu mati
  • Panjangnya adalah 1 alif atau dua harokat.

contoh : 

 

  • Mad far’i

Adapun jenis mad far’i ini terdiri dari 13 macam, yaitu :          

  • Mad Wajib Muttashil

Yaitu setiap mad thobi’i bertemu dengan hamzah dalam satu kata. Panjangnya adalah 5 harokat atau 2,5 alif. (harokat = ketukan/panjang setiap suara)

Contoh :

  • Mad Jaiz Munfashil

Yaitu setiap mad thobi’i bertemu dengan hamzah dalam kata yang berbeda.

 Panjangnya adalah 2, 4, atau 6 harokat (1, 2, atau 3 alif).

Contoh :

  • Mad Aridh Lisukuun

Yaitu setiap mad thobi’i bertemu dengan huruf hidup dalam satu kalimat dan dibaca waqof (berhenti).

Panjangnya adalah 2, 4, atau 6 harokat (1, 2, atau 3 alif).  Apabila tidak dibaca waqof, maka hukumnya kembali seperti mad thobi’i.

Contoh :

  • Mad Badal

Yaitu mad pengganti huruf hamzah di awal kata. Lambang mad madal ini biasanya berupa tanda baris atau kasroh tegak .

Panjangnya adalah 2 harokat (1 alif)

Contoh :

 

  • Mad ‘Iwad

Yaitu mad yang terjai apabila pada akhir kalimat terdapat huruf yang berbaris fathatain dan dibaca waqof.

Panjangnya 2 harokat (1 alif).

Contoh :

 

 

  • Mad Lazim Mutsaqqol Kalimi

Yaitu bila mad thobi’i bertemu dengan huruf yang bertasydid.

Panjangnya adalah 6 harokat (3 alif).

Contoh :

  • Mad Lazim Mukhoffaf Kalimi

Yaitu bila mad thobi’i bertemu dengan huruf sukun atau mati.

Panjangnya adalah 6 harokat (3 alif).

Contoh :

  • Mad Lazim Harfi Musyba’

Mad ini terjadi hanya pada awal surat dalam al-qur’an. Huruf mad ini ada delapan, yaitu :

Panjangnya adalah 6 harokat (3 alif)

 

 

Contoh :

  • Mad Lazim Mukhoffaf harfi

Mad ini juga terjadi hanya pada awal surat dalam al-qur’an. Huruf mad ini ada lima, yaitu :

Panjangnya adalah 2 harokat.

Contoh :

 

  • Mad Layyin

Mad ini terjadi bila huruf berbaris fathah bertemu wawu mati atau ya mati, kemudian terdapat huruf lain yg juga mempunyai baris.

Mad ini terjadi di akhir kalimat kalimat yang dibaca waqof (berhenti).

Panjang mad ini adalah 2 – 6 harokat ( 1 – 3 alif).

 

Contoh :

  • Mad Shilah

Mad ini terjadi pada huruh “ha” di akhir kata yang merupakan dhomir muzdakkar mufrod lilghoib (kata ganti orang ke-3 laki-laki).

Syarat yang harus ada dalam mad ini adalah bahwa huruf sebelum dan sesudah “ha” dhomir harus berbaris hidup dan bukan mati/sukun.

Mad shilah terbagi 2, yaitu :

  1. Mad Shilah Qashiroh

Terjadi bila setelah “ha” dhomir terdapat huruf selain hamzah. Dan biasanya mad ini dilambangkan dengan baris fathah tegak, kasroh tegak, atau dhommah terbalik pada huruf “ha” dhomir.

Panjangnya adalah 2 harokat (1 alif).

Contoh :

 

 

 

  1. Mad Shilah Thowilah

Terjadi bila setelah “ha” dhomir terdapat huruf hamzah.

Panjangnya adalah 2-5 harokat (1 – 2,5  alif).

Contoh :

  • Mad Farqu

Terjadi bila mad badal bertemu dengan huruf yang bertasydid dan untuk membedakan antara kalimat istifham (pertanyaan) dengan sebuutan/berita.

Panjangnya 6 harokat.

Contoh :

 

  • Mad Tamkin

Terjadi bila 2 buah huruf ya bertemu dalam satu kalimat, di mana ya pertama berbaris kasroh dan bertasydid dan ya kedua berbaris sukun/mati.

Panjangnya 2 – 6 harokat (1 – 3 alif).

 

Contoh :

  1. Tajwid Hukum Ra’
  • Ra’ Tafkhim

Ra’ Tafkhim adalah cara membaca huruf ra dengan tafkhim (tebal). 
Ra harus di baca tafkhim atau tebal karena beberapa sebab berikut ini: 

  • Ra’ yang berbaris fathah atau dhommah.  
  • Ra’ yang bertanda sukun dan huruf sebelumnya berbaris fathah atau dhommah. 

 

  • Ra’ di hujung kalimah dibaca sebagai sukun kerana waqaf yang mendatang; juga diselangi huruf mad wau ( و ) atau alif ( ا ) yang bertanda sukun dan sebelumnya ada huruf yang berbaris fathah atau dhommah. 
  • Ra’ di hujung kalimah dibaca sebagai sukun kerana waqaf yang mendatang; sebelumnya terdapat huruf mati selain huruf ( ى ) dan sebelumnya lagi terdapat huruf yang berbaris fathah atau dhommah. 
  • Ra’ yang bertanda sukun selepas huruf hamzah wasal yang berbaris kasrah maupun dhomah.

 

  • Ra’ yang bertanda sukun selepas huruf yang berbaris kasrah dan selepasnya terdapat huruf isti’la’.

 

  • Ra’ Tarqiq

Ra’ Tarqiq adalah cara membaca huruf ra dengan Tarqiq (tipis). 
Ra harus di baca Tarqiq atau tipis karena beberapa sebab berikut ini: 

  • Ra’ yang berbaris kasrah.

 

  • Ra’ yang bertanda sukun selepas huruf yang berbaris kasrah dan bertemu dengan huruf yang bukan huruf isti’la’. 
  • Ra’ di hujung kalimah yang disukunkan (waqaf yang mendatang) dan sebelumnya terdapat huruf sukun yang bukan huruf isti’la’ dan sebelum huruf bertanda sukun itu, terdapat huruf yang berbaris kasrah.

 

  • Ra’ di hujung kalimah yang disukunkan (waqaf yang mendatang) dan sebelumnya terdapat huruf ya ي yang bertanda sukun dan sebelum huruf ya ي bertanda sukun ini, terdapat huruf yang berbaris fatha atau kasrah

  • Ra’ bertanda sukun di hujung kalimah kerana huruf sebelumnya bertanda kasrah dan terdapat huruf isti’la’ di kalimah/kata yang kedua.

 

  • Ra’ Jawajul Wahjhain

Ra’ Jawajul Wahjhain adalah cara membaca huruf ra dengan dua wajah, maksudnya boleh di tebalkan atau di tipiskan. 
Ra boleh di tebalkan atau di tipiskan karena beberapa sebab berikut ini: 

  • Ra’ sukun yang huruf sebelumnya berbaris kasrah dan bertemu dengan huruf isti’la’ yang berbaris kasrah juga. Lebih utama dibaca tipis.

Contoh:

  • Ra’ yang disukunkan di hujung kalimah (waqaf yang mendatang), sebelumnya terdapat huruf isti’la’ yang bertanda sukun dan sebelum huruf isti’la’ ini, ada huruf yang berbaris kasrah. 
    Lebih utama dibaca tebal jika ra’ berbaris fatha. 
    Lebih utama dibaca tipis jika ra’ berbaris kasrah. 

 

  1. Qalqalah

Qalqalah adalah bacaan pada huruf-huruf qalqalah dengan bunyi seakan-akan berdetik atau memantul. Huruf qalqalah ada lima yaitu :  

Qalqalah terbagi menjadi dua jenis: 

  • Qalqalah kecil / Sughra
    yaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu berbaris mati dan baris matinya adalah asli karena harakat sukun dan bukan karena waqaf. 
    Contoh : 

 

 

  • Qalqalah besar / Qubra

 yaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu dimatikan karena waqaf atau berhenti. Dalam keadaan ini, qalqalah dilakukan apabila bacaan diwaqafkan tetapi tidak diqalqalahkan apabila bacaan diteruskan. 
Contoh : 

 

  1. Macam Macam Tanda Waqaf Dalam Al Qur’an

Macam macam tanda waqaf dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut:

  • Waqaf Mutlaq (ط)

Waqaf Mutlaq tandanya ط. Apabila kita membaca Al Qur’an menemui tanda waqaf tersebut, maka lebih utama diwaqafkan atau berhenti pada tanda waqaf tersebut. 

  • Waqaf Lazim (م)

Waqaf Lazim tandanya م. Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf lazim, maka cara membacanya adalah harus berhenti. 

  • Waqaf Jaiz (ج)

Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf jaiz, maka cara membacanya boleh berhenti dan boleh dilanjutkan dengan kata berikutnya.

  • Waqaf Waslu Ula (صلى)
    Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, cara membacanya adalah lebih utama dilanjutkan dengan kata berikutnya.
  • Waqaf Mustahab (قيف)
    Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, diutamakan berhenti pada kata yang terdapat tanda tersebut.
  • Waqaf Waqfu Ula (قال)
    Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, diutamakan berhenti pada kata yang terdapat tanda tersebut.
  • Waqaf Mujawwaz (ز)
    Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, diutamakan terus pada kata yang terdapat tanda tersebut, tetapi boleh juga waqof.
  • Waqaf Murakhas (ص)
    Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, boleh berhenti pada kata yang terdapat tanda tersebut karena darurat yang disebabkan oleh panjangnya ayat atau kehabisan nafas , tetapi diutamakan waslah/terus.
  • Waqaf Qobih (ق)

Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, diutamakan terus pada kata yang terdapat tanda tersebut.

  • Waqaf Laa Washal (لا)
    Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, jangan waqof kecuali jika di bawahnya terdapat tanda awal ayat yang membolehkan waqof secara mutlaq, maka boleh berhenti tanpa di ulang lagi.
  • Waqaf Mu’anaqah (. ۛ.  . ۛ.)
    Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, harus berhenti di salah satu dari kedua kelompok titik tiga tersebut, boleh pada yang pertama atau yang kedua.
  • Waqaf Saktah (ساكته)
    Apabila pada ayat Al Qur’an terdapat tanda waqaf ini, harus berhenti dan diam sejenak tanpa mengambil nafas baru pada kata yang terdapat tanda tersebut. Saktah Sakat adalah diam sejenak biar putus & pisah suaranya dengan tanpa berganti nafas.
    Di dalam Al-Qur’an Saktah hanya ada 4 tempat, yaitu:
  • Di dalam surah Al-Muthaffifin, ayat 14.
  • Di dalam surah Al-Qiyamah, ayat 27.
  • Di dalam surah Yaasiin, ayat 52.
  • Di dalam surah Al-Kahfi, ayat 1.

 

 

  • Cara Mewaqafkan
  • Apabila huruf di akhir kalimat berharakat sukun (mati), cara membacanya harus dibunyikan mati dengan terang menurut bacaan yang semestinya, apakah itu qalqalah atau tidak dan sebagainya. 
  • Apabila di akhir kalimat hurufnya berharakat fathah, dhammah, atau dhammah tanwin, dan kasrah atau kasrah tanwin. Cara membacanya harus disukunkan lebih dahulu kemudian dibaca mati dengan terang menurut bacaan masing masing huruf, 
  • Apabila di akhir kalimat hurufnya berupa ta’ marbutah cara membacanya harus mengubah ta’ marbutah tersebut menjadi ha’ sukun
  • Apabila diakhir kalimat hurufnya didahului huruf mati, dan setelah mematika huruf akhir maka terdapat dua huruf mati. Cara membacanya yaitu dibunyikan sepenuhnya dengan menyuarakan setengah huruf yang terakhir, dengan suara pendek. 
  • Apabila di akhir kalimat hurufnya didahului dengan mad atau mad layyin. Cara membacanya dengan mematika huruf terakhir dan dibaca panjang seperti mad aridl lissukun. 
  • Apabila di akhir kalimat hurufnya berharakat fathah tanwin. Cara membacanya dengan membunyikan menjadi fathah yang dibaca panjang dua harakat dan berubah menjadi mad iwadh. 

 

 

 

 

 

  1. Contoh Tadjwid dalam Al-Quran

Tajwid Kata-Kata Surat Al-Kafirun Ayat 1-6

Kata Hukum Keterangan
  Mad jaiz munfashil Mad pada huruf “ya” bertemu dengan huruf “hamzah” pada kalimat yang berbeda
  Musyaddah Huruf “ya” bertasydid
  Mad thabi’i Huruf “ha” fathah bertemu dengan huruf “alif” mati
  Alif lam qamariah Huruf “alif lam” bertemu dengan huruf “kaf
  Mad thabi’i Huruf “kaf” fathah bertemu dengan “alif” mati
  Tafkhim Huruf “ra” berharakat dhommah
  Mad thabi’i Huruf “ra” dhommah bertemu dengan huruf “wau” mati
  Mad ‘aridh lissukun Mad pada huruf “ra” bertemu dengan huruf “nun” kemudian huruf “nun” diwaqafkan
  Mad jaiz munfashil Mad pada huruf “lam” bertemu dengan huruf “hamzah” pada kalimat yang berbeda
  Mad thabi’i Huruf “mim” fathah bertemu dengan huruf “alif” mati
  Mad thabi’i Huruf “da” dhommah bertemu dengan huruf “wau” mati
  Mad ‘aridh lissukun Mad pada huruf “da” bertemu dengan huruf “nun” kemudian huruf “nun” diwaqafkan
  Mad jaiz munfashil Mad pada huruf “lam” bertemu dengan huruf “hamzah” pada kalimat yang berbeda
  Ikhfa aqrab Huruf “nun” mati bertemu dengan huruf “ta
  Izhar syafawi Huruf “mim” mati bertemu dengan huruf “‘a
  Mad thabi’i Huruf “‘ain” fathah bertemu dengan huruf “alif” mati
  Mad thabi’i Huruf “da” dhommah bertemu dengan huruf “wau” mati
  Mad jaiz munfashil Mad pada huruf “mim” bertemu dengan huruf “hamzah” pada kalimat yang berbeda
  Kalkalah kubra Huruf “da” mati di akhir kalimat
  Mad jaiz munfashil Mad pada huruf “lam” bertemu dengan huruf “hamzah” pada kalimat yang berbeda
  Mad thabi’i Huruf “‘ain” fathah bertemu dengan “alif” mati
  Idgham bighunnah Huruf “da” tanwin dhommah bertemu dengan huruf “mim
  Musyaddah Huruf “mim” bertasydid
  Mad thabi’i Huruf “mim” fathah bertemu dengan huruf “alif” mati
  Idgham Mutajanisain Huruf “da” sukun bertemu dengan “ta
  Izhar syafawi Huruf “mim” mati bertemu dengan huruf “da
  Mad thabi’i Huruf “da” kasrah bertemu dengan huruf “ya” mati
  Izhar syafawi Huruf “mim” mati bertemu dengan huruf “wau
  Mad thabi’i Huruf “da” kasrah bertemu dengan huruf “ya” mati

 

Surat Al – Qadr

وَمَا أَ Mad Wajib Muthasil Karena huruf Mad bertemu Hamzah pada satu kalimat
 

أَدْرَاكَ

Qalqalah sugra Karena huruf Dal Sukun berada di tengang kalimat
أَدْرَاكَ Ra’ Tafkhim Karena Ra’ berharakat Fathah
مَا Mad Thabi’i Karena Mim berharakat Fathah bertemu Alif sukun
لَيْل Mad Layin Karena Ya’ sukun di dahului harakat Fathah
 

لَيْلَةُ الْقَد

Al – Qomariyah Karena Alif lam bertemu huruf Qaf
 

الْقَدْرِ

Qalqalah Sugra Karena huruf Dal Sukun berada di tengah kalimat
 

الْقَدْرِ

Ra’Tarqiq Karena Ra’ berharakat Kasrah

 

لَيْل Mad Layin Karena huruf Ya’ sukun di dahului Harakat Fathah
لَيْلَةُ الْقَ Al – Qomariyah Karena Alif lam bertemu huruf Qaf
الْقَدْرِ Qalqalah Sugra Karena Dal Sukun berada di tengah kalimat
الْقَدْرِ Ra’ Tarqiq Karena huruf Ra’ berharakat Kasrah
خَيْرٌ Mad Layin Karena huruf Ya’ sukun di dahului harakat Fathah
مِّنْ أَلْفِ Idzhar Halqi Karena huruf Nun sukun bertemu dengan Hamzah
مِّنْ أَلْفِ Al – Qomariyah Karena huruf Alif lam bertemu dengan huruf Fa

 

تَنَزَّلُ الْمَلَا Al – Qomariyah Karena Alif lam bertemu huruf Mim
لْمَلَا Mad Thabi’i Karena huruf Lam berharakat Fathah bertemu dengan Alif sukun
وَالرُّوحُ Al – Qomariyah Karena Alif lam bertemu dengan Ra’
وَالرُّوحُ Mad Thabi’i Karena huruf Ra’ berharakat Dhommah bertemu dengan Wau sukun
فِيهَا Mad Thabi’i Karena huruf Fa’ berharakat Kasrah bertemu dengan Ya’ sukun
فِيهَا Mad Thabi’i Karena huruf Haa berharakat Fatahah bertemu dengan Alif sukun
رَبِّهِم مِّن Idghom Mutamatsilain / Mimi Karena huruf Mim sukun bertemu dengan huruf Mim
مِّن كُلِّ Ikhfa Haqiqi Karena huruf  Nun sukun bertemu dengan huruf Kaf
أَمْرٍ Ra’ Tarqiq Karena huruf Ra’ berharakat Kasrahtain

 

سَلَا  

Mad Badal

Karena ada huruf Lam berharakat Alif berdiri
سَلَامٌ هِيَ  

Idzhar Halqi

Karena Mim berharakat Dhommahtain bertemu huruf Haa
حَتَّىٰ  

Mad Badal

Karena ada huruf Ta’ berharakat Alif berdiri
مَطْلَعِ  

Qalqalah Sugra

Karena Tho sukun berada di tengah kalimat
مَطْلَعِ الْفَجْرِ  

Al – Qomariyah

Karena Alif lam bertemu Dengan Fa’
الْفَجْرِ  

Qalqalah Sugra

Karena huruf Jim sukun berada di tengah Kalimat
الْفَجْرِ  

Ra’ Tarqiq

Karena huruf Ra’ berharakat Kasrah

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s